Untuk membantu mencegah produksi barang berlebih, penting untuk mengetahui pull system atau sistem tarik. Hal ini karena sistem ini merupakan salah satu cara untuk mengendalikan produksi. Sistem tarik juga adalah salah satu bagian utama dari sistem produksi JIT atau Just-in-Time yang lengkap bersama dengan Heijunka serta Kanban.
Pengertian Pull System
Pull System atau sistem tarik merupakan strategi atau teknik yang digunakan dalam lean manufacturing untuk mengurangi atau meminimalkan pemborosan dalam proses produksi. Dalam sistem tarik, komponen yang digunakan dalam proses manufaktur hanya akan diganti setelah habis masa pakainya sehingga pada akhirnya perusahaan hanya akan memproduksi produk secukupnya untuk memenuhi permintaan. Ini berarti seluruh sumber daya perusahaan digunakan untuk melakukan produksi barang yang nantinya akan langsung dijual serta menghasilkan laba atau keuntungan. Sistem tarik pada dasarnya juga bekerja secara terbalik yang dimulai dengan pesanan atau permintaan pelanggan lalu menggunakan sinyal visual untuk mendorong tindakan di masing-masing langkah selanjutnya dalam proses.
Jenis Pull System
Dalam penerapan lean manufacturing, memilih sistem tarik yang tepat sangat penting. Berikut adalah 3 jenis sistem tarik yang penting untuk diketahui.
1. Type A Pull System (Sistem Tarikan Tipe A)
Sistem tipe A juga dikenal dengan supermarket sistem tarik. Sistem tarik ini adalah yang paling umum digunakan. Setiap proses mempunyai supermarket atau toko yang menyimpan produk perusahaan dalam tipe yang satu ini. Perusahaan melakukan aktivitas produksi untuk mengisi kembali stok supermarket atau toko berdasarkan permintaan dari pelanggan.
2. Type B Pull System (Sistem Tarikan Tipe B)
Perusahaan akan menggunakan sistem tipe B saat mempunyai pesanan rendah serta pelanggan harus menunggu pesanan, seperti pada produsen khusus. Sistem tipe B juga dikenal dengan ‘Tarik Berurutan’. Sistem tipe B menghindari penimbunan barang jadi dalam jumlah yang besar dan menekankan perlunya mempertahankan waktu tunggu yang dapat diprediksi serta singkat. Tantangan dalam sistem yang satu ini, yaitu dibutuhkan manajemen yang kuat agar dapat tetap berjalan lancar.
3. Type C Pull System (Sistem Tarikan Tipe C)
Sistem ini menggabungkan tipe A serta tipe B dan bekerja bersama. Sistem A akan menangani pesanan yang berfrekuensi tinggi, sedangkan sistem B akan menangani pesanan yang berfrekuensi rendah. Sistem tipe C cocok atau ideal untuk para produsen yang memproduksi barang dengan frekuensi rendah serta tinggi. Dengan menggunakan tipe A dan tipe B secara selektif, sistem tipe C memungkinkan untuk memanfaatkan keunggulan dari masing-masing pendekatan.
Kedua sistem ini dapat dijalankan secara berdampingan atau dapat juga menggunakannya untuk nomor komponen tertentu di lokasi yang berbeda. Namun, sistem hibrida bisa mempersulit identifikasi masalah serta proses penyeimbangan. Oleh sebab itu, memastikan sistem kombinasi bekerja secara efektif serta disiplin sangat penting.
Dengan menerapkan pull system, perusahaan bisa mulai memproduksi barang baru hanya saat ada permintaan dari pelanggan. Sistem ini juga membantu perusahaan memanfaatkan ruang penyimpanan dengan lebih baik serta membantu mengurangi biaya.
Dengan mengonfigurasi ERP (Enterprise Resource Planning) agar selaras dengan prinsip lean manufacturing, maka pemborosan dapat dikurangi dan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.